TORAJA UTARA, PorosNegeri.com – DPD Partai NasDem Toraja Utara hadirkan Rumah Kopi Restorasi sebagai wadah pendidikan informal, penelitian dan pengembangan sektor pertanian, khususnya komoditas kopi, Rabu (9/9/2026).
Rumah Kopi Restorasi tersebut merupakan kelanjutan dari kegiatan Akademi Bela Negara (ABN) yang sebelumnya dilaksanakan di Jakarta.
Gagasan ini lahir dari keinginan DPD NasDem Toraja Utara, yakni Ketua DPD NasDem Toraja Utara, Yosia Rinto Kadang, dan Anggota DPR RI Eva Stevany Rataba, untuk memfasilitasi petani kopi, pelaku usaha, hingga masyarakat yang berkecimpung dalam industri kopi di Toraja Utara.
Ketua Bapilu DPD Partai Nasdem, Johan Darise menyebutkan, pihaknya sebelumnya telah melakukan pengamatan dengan mengunjungi sejumlah petani kopi untuk melihat langsung pengelolaan, distribusi hingga harga kopi di tingkat petani.
Dari pengamatan tersebut, pihaknya menemukan bahwa petani menjadi pihak yang memperoleh margin paling kecil dalam rantai perdagangan kopi, mulai dari petani, pembeli hingga proses ekspor.
“Pihak yang paling dirugikan sebenarnya adalah petani kopi karena mereka yang paling mendapat margin terkecil dari proses siklus perkembangan kopi,” ujarnya.
Karena itu, NasDem Toraja Utara yakni Ketua DPD NasDem Toraja Utara, Yosia Rinto Kadang, dan Anggota DPR RI Eva Stevany Rataba mendorong sejumlah langkah untuk meningkatkan kualitas sekaligus nilai jual kopi Toraja Utara.
Salah satunya melalui pengembangan varietas kopi unggul.
Rumah Kopi Restorasi kini diarahkan menjadi lokasi pembelajaran dan penelitian untuk mengembangkan bibit kopi berkualitas.
Menurutnya, peningkatan kualitas kopi menjadi salah satu kunci untuk mendongkrak pendapatan petani.
“Kalau kopi yang mereka tanam itu kopi berkualitas, secara otomatis akan meningkatkan harga jual sehingga petani-petani kopi yang ada di Toraja Utara ini bisa sejahtera,” katanya.
Selain peningkatan kualitas, NasDem juga mengkaji skema intervensi harga agar petani mendapatkan harga jual yang lebih layak.
Salah satu gagasan yang tengah dipertimbangkan adalah pembentukan lembaga semacam koperasi yang nantinya dapat membantu menghubungkan petani dengan pembeli atau investor kopi.
“Tujuannya bagaimana kita mengintervensi harga-harga yang ada di para petani. Harga jual yang sangat tinggi dan harga beli di petani yang sangat rendah itu akan kita sinkronkan pakai standar pembelian kopi,” jelasnya.
Tak hanya kopi, Rumah Kopi Restorasi juga diarahkan menjadi pusat eksperimen berbagai sektor yang dinilai memiliki potensi meningkatkan pendapatan masyarakat.
Pengembangan varietas unggul jagung hingga budidaya ikan nila disebut telah mulai dilakukan.
Menurut Johan, rumah kopi restorasi tidak semata-mata difokuskan untuk menghasilkan produk, tetapi lebih pada transfer pengetahuan kepada masyarakat.
“Yang kita kelola di sini sebenarnya adalah pengetahuannya, bagaimana memberi pengetahuan yang benar terhadap para petani, peternak atau budidaya ikan,” katanya.
Ke depan, masyarakat, mahasiswa, kelompok tani dan pelaku usaha kecil yang tertarik akan diberikan kesempatan untuk mengikuti proses pembelajaran dan penelitian di Rumah Kopi Restorasi.
NasDem juga berencana menghadirkan penyuluh maupun ahli dari luar daerah untuk memberikan pengetahuan mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, panen hingga proses produksi kopi.








